Uncategorized

Mahasiswa UNS Tewas saat Diklat Menwa, 21 Saksi Diperiksa, Wali Kota Solo Gibran: Bikin Malu!

Kasus tewasnya mahasiswa UNS saat diklat calon anggota Menwa jadi perhatian warga Kota Solo. Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka ikut buka suara. Bahkan orang nomor satu di Kota Bengawan menekankan, jika dirinya mengaku bertanggung jawab secara penuh. Terpisah secara resmi pihak UNS juga angkat bicara.

Mereka menyerahkan proses penyidikan pada pihak berwajib. Polisi juga mengungkap ada kekerasan yang dialami korban. Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka menekankan, jika dirinya mengaku bertanggung jawab secara penuh atas tewasnya mahasiswa UNS saat diklat Menwa.

"Sudah nanti saya koordinasikan dengan Pak Rektor, lagi diurus Pak Kapolres, kita tunggu saja hasil penyelidikan," ujarnya menekankan. Gibran menambahkan saat ini dirinya masih menunggu hasil autopsi GE dari RSUD Moewardi. "Kita tunggu saja hasil autopsi seperti apa, yang jelas saya sangat menyayangkan kejadian seperti ini, bikin malu," katanya.

Dia mengimbau bagi yang melakukan pelatihan fisik, jangan berlebihan. "Jangan berlebih, jangan sampai kejadian kayak seperti ini terlulang lagi," ujarnya. Teka teki penyebab kematian mahasiswa GE (20) saat diklat calon anggota Menwa UNS, mulai terkuak.

Kini, paling baru polisi telah menyampaikan hasil pemeriksaan dan penyelidikan terhadap kasus tersebut. Kapolresta Solo Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak mengungkapkan, tim sudah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi selama berlangsungnya diklat di dalam kampus itu. Polisi memeriksa mulai pengurus hingga dosen pembimbing.

Ade menekankan, dari hasil penyelidikan di kampus UNS dan kawasan Jembatan Jurung, Bengawan Solo, polisi kini mengubah status kasus jadi penyidikan. "Karena adanya dugaan kekerasan yang mengakibatkan meninggal dunia," ungkapnya. Adapun sejak kasus muncul, penyelidikan dilakukan oleh Satreskrim Polresta Solo, Direskrimum Polda Jateng dan Dokter kesehatan Polda Jateng.

"Jadi peroses penyelidikan dari tim gabungan, ada hasil berita acara klarifikasi beberapa saksi termasuk saksi yang bersama korban saat dinyatakan meninggal dunia," aku dia. Polisi memeriksa sejumlah saksi terkait kasus kematian mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) saat diklat Resimen Mahasiswa (Menwa). Kasatreskrim Polresta Surakarta AKP Djohan Andika mengatakan saat ini sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Dia menyebut, lokasi diklat di antara, Sekertariat Menwa, Belakang Audiotorum, Gedung Olahraga dan Fakultas Teknik. "Balik lagi ke sini (Sekretariat Menwa), tapi juga ada yang mengikuti ke kawasan Jurung Bengawan Solo," jelasnya. Djohan mengatakan saat ini belum mengamankan terhadap para saksi yang merupakan anggota Menwa,

"Bukan pengamanan, tapi kami masih minta keterangan keterangan (saksi) terkait kegiatan sepajang dua hari kegiatan Diklat," aku dia. Selain itu, Djohan memastikan saat ini jenazah GE telah diautopsi di RSUD Dr Moewardi Solo. "Penyebab masih dalam penyelidikan, termasuk korban sedang dilakukan autopsi, menunggu hasil," ujarnya.

Penyebab pasti meninggalnya mahasiswa UNS, GE (20) saat mengikuti Diklat calon anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) masih menjadi teka teki. Namun kini, keluarganya asal Dusun Keti, Desa Dayu, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar terus mengikuti perkembangan penyelidikan. Paman korban, Sutarno mengungkapkan kejadian tersebut diawali ketika GE mengikuti kegiatan panjat tebing dalam rangkaian diklat Menwa.

Versi pengurus Menwa UNS kata dia, sempat menyampaikan kronologi kepada keluarga. Lanjut Sutarno, ketika sampai di bawah, GE disebut mengalami kesurupan. "Di lokasi sempat di ruqyah, habis itu ceritanya seperti apa tidak tahu, tahu tahu sudah di rumah sakit," terangnya.

Masih belum diketahui secara pasti, penyebab kematian korban, apakah murni karena kecelakaan atau kekerasan alias perpeloncoan saat diklat calon anggota itu. Sutarno menduga korban meninggal lebih dari dua jam setelah dikabari pada pukul 02.00 WIB. "Kalau melihat lukanya seperti itu, nggak satu atau dua jam, kemungkinan sudah lama, karena cairan yang keluar dari kepalanya sudah bau," kata dia.

Berdasarkan informasi terbaru dari pihak keluarga, diduga korban sudah meninggal pada hari Minggu (24/10/2021) sekitar pukul 10.00 WIB. Kemungkinan, saat masih di lokasi kejadian, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia. "Korban baru dibawa ke rumah sakit, sebelum akhirnya kabar duka tersebut terdengar oleh keluarga," aku dia.

Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan UNS Solo Sutanto, mengatakan GE mahasiswa D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sekolah Vokasi UNS angkatan tahun 2020. "Kegiatan pendidikan dan latihan pra gladi angkatan 36 Menwa, dilaksanakan mulai tanggal 23 31 Oktober 2021," ujarny. Sutanto menjelaskan kegiatan itu diikuti 12 mahasiswa.

"Kegiatannya di sekitar kampus, dengan materi soal Keselamatan Kesehatan Kerja, agenda pendidikan dasar," ujarnya. Terkait detik detik meninggalnya GE, Sutanto tidak menjelaskan secara detail. Namun, dia memastikan, kondisi GE sebelum dibawa ke rumah sakit mengalami keram kaki.

"Langsung dibawa ke Rumah Sakit Moewardi, lalu dinyatakan meninggal untuk penyebabnya masih menuggu autopsi," ujar. Pimpinan UNS Solo memberikan keterangan resmi pasca kasus tewasnya mahasiswa akibat calon anggota diklat Menwa, Selasa (26/10/2021) Adapun keterangan pers dihadiri oleh Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Prof. Ahmad Yunus dan Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Sutanto.

Dikatakan Sutanto, bahwa UNS bersama kepolisian sudah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di lingkungan kampus dan Jembatan Jurug. Total ada 21 panitia dalam kegiatan yang sudah dimintai keterangan. Prof. Ahmad Yunus menambahkan selain mengucapkan bela sungkawa, kampus juga telah berkoordinasi dengan pihak keluarga serta kepolisian.

Pihaknya juga belum bisa memastikan penyebab tewasnya salah satu mahasiswa saat mengikuti Diklat Menwa UNS itu. “Hasil dari autopsi masih menunggu dari kepolisian, UNS menyerahkan hasil kesimpulan kejadian tersebut secara resmi dari kepolisian," aku dia. "Apakah itu kecelakaan atau ada unsur dugaan kekerasan, kami sepenuhnya menunggu dari pihak kepolisian,” ucapnya menekankan.

Prof. Yunus menambahkan sejak insiden maut ini terjadi, kampus melakukan pengawalan. Mulai dari mengantarkan jenazah ke rumah duka pada Minggu malam (24/10/2021), lalu pada keesokan harinya mengambil lagi jenazah GE untuk dilakukan autopsi dan pemakaman. “Jenazah kami bawa dari Karangpandan ke Moewardi. Sesampainya di sana, dilakukan autopsi oleh dokter dari Moewardi dan dokter forensik dari Bhayangkara Polri,” terang dia.

Seperti diketahui, Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dikabarkan meninggal setelah mengikuti kegiatan Pendidikan dan Latihan (Diklat) pada Minggu (24/10/2021). Sampai saat ini polisi masih melakukan penyelidikan terkait kejadian tersebut. AKP Djohan Andika mengatakan, memang ada kejadian mahasiswa meninggal setelah mengikuti diklat tersebut.

Namun, saat ini pihak kepolisian juga masih menunggu apakah keluarga bersedia untuk korban diautopsi. "Pada intinya benar ada kejadian tersebut," ungkapnya. "Untuk mengetahui penyebab pasti kematian dari korban. Saat ini para anggota sudah berada di Rumah Duka," ungkapnya.

Sementara, Djohan mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan pada Minggu (24/10/2021) kemarin. "Untuk laporan resmi belum ada, tapi dari informasi sementara, di kawasan Jurug ada kegiatan yang dilakukan oleh Mahasiswa UNS," kata Djohan

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *