Uncategorized

3 Negara Tetangga Indonesia Pecah Rekor Covid-19, Faskes di Vietnam Diambang Kolaps

Tiga negara tetangga Indonesia yakni Vietnam, Myanmar, dan Malaysia kini menghadapi persoalan utama lonjakan kasus Covid 19. Sama dengan Indonesia, jumlah pasien serta tingkat kematian pada ketiga negara anggota ASEAN itu naik drastis diduga akibat sebaran Covid 19 varian Delta. Malaysia mencatatkan rekor kematian harian tertinggi akibat Covid 19 selama dua hari berturut turut dengan 153 kasus kematian dibandingkan sehari sebelumnya 138 kasus kematian.

Ini sekaligus merupakan angka kematian tertinggi di Malaysia sejak pandemi Covid 19 melanda negara tetangga Indonesia itu. Ini menjadikan kasus kematian di Malaysia akibat Covid 19 menjadi 7.019 kasus. Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Tan Sri Dr Noor Hisham Abdullah sebagaimana dilansir dari Bernama pada Ahad (18/7/2021) menegaskan 153 warga Malaysia yang meninggal kemarin itu terdiri dari 125 warga Malaysia dan 28 warga asing yang berada di Malaysia.

Adapun jumlah kasus aktif Covid 19 di Malaysia saat ini mencapai 124.593 kasus. Dia mengatakan sejauh ini total 779.171 orang sembuh dari Covid 19 dan kemarin 5.778 orang sembuh dalam sehari terdiri dari 909 kasus berada di ICU dan 445 kasus membutuhkan bantuan pernafasan. Sementara itu, kota terbesar di Vietnam, Ho Chi Minh City, fasilitas kesehatannya di ambang kolaps akibat wabah Covid 19 yang memburuk.

"Ho Chi Minh City dan wilayah ekonomi utama di selatan mengalami epidemi yang sangat rumit," kata Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chink dalam pertemuan darurat online pada Kamis (15/7/2021) dikutip dari Nikkei Asia. Pertemuan itu diadakan ketika Covid 19 di Vietnam mengalami lonjakan kasus baru sebanyak 3.379 secara nasional pada Kamis. Di Ho Chi Minh City sendiri 2.691 kasus terdeteksi hari itu. Provinsi Binh Duong yang berdekatan melaporkan 122 kasus, sementara Dong Nai 132.

Menteri Kesehatan Vietnam Nguyen Thanh Long pada pertemuan itu mengatakan, gelombang virus corona di Vietna, sekarang membuat total kasus jadi 34.582 angka kematian mencapai 100 orang. Selama pekan ini saja, Covid 19 Vietnam mencatat 8.187 kasus baru. Vietnam Selatan menjadi wilayah dengan dampak terparah dengan Ho Chi Minh City yang terbanyak, ada 6.338 kasus.

Lonjakan itu terjadi saat Vietnam berusaha mempercepat vaksinasinya. Sekitar 4 persen dari total 100 juta penduduk sudah disuntik setidaknya satu dosis vaksin Covid 19. Angka itu membuat Vietnam menempati bagian bawah daftar progres vaksinasi di ASEAN.

Taman taman utama yang dikelola HEPZA, termasuk Quang Trung Software City dan Saigon Hi Tech Park, sangat waspada karena mereka menampung perusahaan teknologi besar seperti Samsung, Intel dan Nidec. Lebih dari 1.000 bisnis berbasis di taman itu dan zona di bawah HEPZA dengan total 274.000 pekerja. Vietnam saat ini mengisolasi 270.665 orang, 3.564 di antaranya dikarantina di fasilitas medis, 77.435 di fasilitas konsentrasi. Sisanya 189.666 orang diisolasi di rumah dan di akomodasi, menurut pihak berwenang.

Di episentrum virus corona Vietnam, Ho Chi Minh, otoritas setempat sedang bersiap menambah 5 rumah sakit lapangan dengan 50.000 tempat tidur tambahan, karena 19 rumah sakit lapangan yang ada sudah kekurangan pekerja medis serta peralatan. "Jumlah kasus baru berkembang pesat, membutuhkan lebih banyak tenaga kerja," kata Tang Chi Thuong, wakil direktur Departemen Kesehatan Ho Chi Minh City kepada media lokal, Kamis. Menanggapi situasi tersebut, Vietnam sejauh ini telah mengerahkan 10.000 nakes dan relawan untuk membantu Ho Chi Minh City, kata Kementerian Kesehatan pada Kamis.

Kemenkes hari itu juga mengeluarkan pedoman baru yang mempersingkat waktu perawatan untuk pasien tanpa gejala, agar meringankan beban fasilitas medis yang merawat pasien COVID 19 di Ho Chi Minh City dan Binh Duong. Ho Chi Min City adalah mesin ekonomi Vietnam. Pada 2020 kota itu menyumbang 22,3 persen Produk Domestik Bruto nasional, dan 27,5 persen APBN selama 2011 2019.

Sementara itu,Mynamar yang berada di bawah kendali militer melaporkan rekor kasus infeksi dan kematian akibat Covid 19, pada Rabu (14/7/2021) lalu. Negara yang tengah mengalami gejolak politik tersebut menderita gelombang infeksi paling parah sejak pandemi merebak di sana. Melansir yang mengutip angka Kementerian Kesehatan, MRTV, ada 7.089 kasus baru dan 145 kematian akibat Covid 19.

Jumlah ini naik tajam dari angka hari sebelumnya. Ratusan mayat di Myanmar menumpuk untuk dimakamkan setiap harinya, kata layanan yang mengangkut mayat dan mengatur upacara. Melansir , laporan dari berbagai bagian Myanmar menunjukkan, jumlah kematian harian lebih tinggi daripada yang diberikan oleh kementerian kesehatan, yang mencapai rekor 145 kematian pada hari Rabu.

Reuters tidak dapat menghubungi Kementerian Kesehatan atau juru bicara junta untuk memberikan komentar lebih lanjut mengenai angka tersebut. Jumlah pemakaman di pemakaman Yay Way di kota terbesar Myanmar, Yangon, sekitar 200 per hari selama seminggu terakhir. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat dari yang biasanya.

Ada peningkatan serupa di dua pemakaman lain di kota dengan 400 hingga 500 orang dikremasi di sana per hari. "Kami harus mengangkut mayat ke pemakaman yang berbeda. Kami melakukan lebih dari 40 perjalanan sehari," kata Bo Sein (52) yang mengoperasikan layanan pengangkut jenazah. "Melihat mayat di pemakaman hari ini, saya berpikir bahwa tidak akan mudah untuk terus seperti ini."

"Yang kaya dan yang miskin, semuanya meninggal karena Covid," kata Bo Sein, yang juga menyiapkan peralatan pelindung untuk mengangkut jenazah. Kondisi berbeda dialami negara tetangga Indonesia lainnya yakni Brunei Darussalam. Brunei Darussalam menjadi negara yang memiliki kasus Covid 19 terendah dibanding negara lain di Asia Tenggara.

Berdasarkan data dari Worldometers, Sabtu (17/7/2021) pukul 16.00 WIB, Brunei Darussalam baru mencatatkan 283 kasus Covid 19 sepanjang pandemi berlangsung. Dari jumlah itu, korban meninggal hanya 3 orang dan 260 orang lainnya dinyatakan sembuh. Negara ini menjadi contoh dari kesiapsiagaan, perhatian dan kepedulian terhadap warganya, termasuk warga negara asing dan wisatawan.

Bagaimana penanganan Covid 19 di Brunei Darussalam? Mengutip The Asean Post, saat Covid 19 pertama terdeteksi pada 9 Maret 2020 di negara tersebut, Sultan Brunei Darussalam langsung mengambil tindakan tegas. Kasus pertama dialami seorang pria berusia 53 tahun. Dari kasus awal itu, jumlah kasus baru melonjak melewati angka 135 dalam beberapa hari.

Menteri Kesehatan Brunei Dr Hj Mohd Isham mengatakan, kunci penanganannya adalah dengan transparan dan tidak berusaha menekan atau menyembunyikan kasus berita apapun. Setelah terbuka dengan rakyat, Kementerian Kesehatan pun berhasil meyakinkan warga Brunei bahwa semuanya terkendali. Pemerintah juga melakukan tes acak gratis bagi para pekerja migran.

Sama seperti negara lainnya, Brunei juga melarang warganya bepergian, adanya pembatasan pertemuan publik, dan meminta orang untuk bekerja dari rumah. Masjid dan tempat ibadah lainnya ditutup. Pemilik toko diminta untuk mempraktikkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan komunitas. Hal penting lainnya adalah pemerintah memastikan bahwa warganya tidak akan kekurangan barang barang kebutuhan penting selama pandemi.

Pemerintah dan perbankan telah mencapai kesepakatan untuk menunda pembayaran pinjaman selama 6 bulan di empat sektor, yaitu pariwisata, perhotelan dan manajemen acara, restoran dan transportasi udara. Selain itu, kecuali untuk biaya pihak ketiga, semua biaya bank yang terkait dengan transaksi perdagangan dan pembayaran juga akan dibebaskan selama 6 bulan. Pemerintah Brunei mengumumkan bahwa mereka akan membayar 25 persen dari gaji karyawan sektor swasta selama 3 bulan untuk menutupi kerugian bisnis.

Ini termasuk sebagian dari upah pekerja Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang berpenghasilan kurang dari 1.500 dollar Brunei atau sekitar Rp 16 juta. Pemerintah juga membebaskan sewa toko kecil dan warung makan. Berdasarkan analisis dari Institut Kesehatan Nasional Inggris (NIH), jumlah populasi Brunei yang kecil dan pemerintahan yang terpusat memungkinkan implementasi yang cepat dari penanganan Covid 19.

Langkah mitigasi dan membangun kapasitas untuk mendukung tahap pandemi selanjutnya. Pemerintah Brunei sangat tersentralisasi dan ada alokasi anggaran khusus sebesar 15 juta dollar atau sekitar Rp 160 miliar khusus untuk pandemi. Pusat Operasi Kedaruratan Kementerian Kesehatan menangani masalah sehari hari dengan dukungan ad hoc dari instansi lain.

Meski di awal negara ini sempat bermasalah pada manajemen sumber daya dan ketidakjelasan tanggung jawab untuk mengamankan pengaturan logistik operasional. Keberhasilan Brunei dalam mengendalikan gelombang pertama infeksi Covid 19 adalah mekanisme pengawasannya yang didukung oleh pelacakan kontak yang ketat. Pada April 2020, rasio uji per kapita Brunei adalah 2479 tes untuk 100.000 orang, jumlah tertinggi di dunia saat itu.

Mereka memanfaatkan catatan digital pasien dalam database. Sistem manajemen informasi kesehatan nasional menghubungkan semua fasilitas perawatan kesehatan dengan penetrasi populasi hampir 100 persen. Ada tim khusus untuk pelacakan kontak yang terdiri dari petugas kesehatan masyarakat terlatih dan pekerja lapangan.

Untuk menjamin keberlangsungan kegiatan pelacakan kontak, tim ini dilengkapi ditemani petugas kepolisian untuk membantu investigasi kasus dan pemetaan kegiatan.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.